Filsafat Empirisme Berkeley & Hume

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pada abad ke-17, sebagian para filosof menaruh kepercayaan besar kepada kemampuan akal, karena akal, segala macam persoalan atau permasalahan dapat dijelaskan serta dipahami dan dipecahkan, termasuk semua permasalahan kemanusiaan. Dengan kemampuan akal tersebut, orang berharap lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Corak berpikir yang sangat mendewasakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan sebutan Rasionalisme. Salah satu tokoh yang mengant aliran ini adalah Rene Descartes.[1]

Sebagian para filosof inggris pada abad ke-17 berbeda dengan aliran yang dirintis oleh Decartes. Mereka lebih mngikuti jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisisme. Empirisisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal.[2]

Ilmu-ilmu empirisisme ini memperoleh bahan-bahan untuk sesuatu yang dinyatakan sebagai hasil atau fakta dari sesuatu yang dapat diamati dengan berbagai cara. Bahan-bahan ini terlebih dahulu harus disaring, diselidiki, dikumpulkan, diawasi, diverifikasi, diidentifikasi, didaftar, dan diklasifikasikan secara ilmiah.

Ada yang menyatakan bahwa suatu pengamatan harus didasarkan atas data empiris. Namun berdasarkan rasionalisme logis, Tuhan telah menciptakan akal bagi manusia sehingga membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lain. Akal harus difungsikan dalam suatu pengamatan agar bisa digambarkan dan diuraikan untuk menerima hasil kebenarannya yang akan menjadi pengetahuan.

Adapun tokoh-tokoh filsafat yang mengembangkan paham empirisisme diantaranya Francis Bacon, John Locke, George Berkeley, dan David Hume. Maka dari sekian tokoh tersebut, yang akan dipaparkan hanya dua tokoh, yaitu George Berkeley dan David Hume.

 

Rumusan Masalah

  1. Apa itu Empirisisme?
  2. Bagaimana Empirisisme Berkeley?
  3. Bagaimana Empirisisme Hume?

 

PEMBAHASAN
EMPIRISISME BERKELEY DAN HUME

 

  1. Empirisisme

Empirisisme merupakan suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empririsisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan.[3]

Empirisisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut lagi, aliran ini mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi. Aliran ini sangat perperan penting bagi pengetahuan, malah merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut aliran ini.[4]

Aliran empirisisme memberikan tekanan pada empiris atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan.[5] Pengalaman adalah keseluruhan totalitas pengamatan yang disimpan di dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lalu.[6]

Paham ini, empiris atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah, akal bukan jadi sumber pengetahuan, tetapi akal mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman.[7]

 

 

  1. Tokoh-Tokoh Empirisisme

Adapun tokoh-tokoh empirisisme yang akan dibahas, ialah Berkeley dan Hume, sebagai berikut:

  1. George Berkeley

George Berkeley (1685-1753). Berkeley adalah orang irlindia serta menjadi anggota trinity college, di Dublin, pada usia 20 tahun. Dia berencana untuk membangun sebuha perguruan tinggi di Bermuda, berbekal rencana ini, ia pergi ke Amerika. Selama 3 tahun di Rhode Island, kemudia ia pulang dan membatalkan pembangunan tersebut. Yang karena itulah kota di california kemudian ia diberikan sebuah nama berkeley. [8]

Sejak dari muda ia telah mempunyai keyakinan bahwa jika ilmu dan filsafat dibebaskan dari abstraksi-abstraksi tanpa arti dan kata-kata yang kabur sehingga dapat diakhiri pertengkaran antara keyakinan dan pengetahuan manusia. Ia berusaha keras untuk menyadarkan manusia kembali kepada pengalaman langsung dan intuisi.

Ia berpendapat bahwa objek-objek material sebagai benda-benda yang tampak kepada manusia adalah semuanya bergantung kepada pikiran dan karena itu tidak ada benda alam semesta yang diluar kenyataan pikiran. Ia beranggapan bahwa kebenaran yang terbukti dengan sendirinya bahwa benda yang membentuk bangunan di dunia ini tidak mempunyai suatu kehadiran yang sesungguhnya kecuali yang ditangkap oleh pancaindera.[9]

Dalam artian, bahwa suatu objek yang ada, pasti ada serta dapat dipersepsi oleh pikiran. Semua pandangan metafisis tentang adanya realita-realita yang tidak dapat dipersepsi oleh pikiran adalah omong kosong. Jadi, sebenarnya dunia material di luar kesadaran itu, substansi material, tidak ada. Yang ada hanya idea atau penangkapan persepsi manusia. Karena itu, being is being perceived sama dengan being is seeming, atau duniaku adalah duniaku.[10]

Kata Berkeley, bahwa pengalaman adalah hal yang inheren dalam diri subjek, karena kita masing-masing secara langsung menyadari keberadaan kita sebagai subjek itu, yakni subjek yang memiliki pengalaman. Namun tidak pernah dapat mempunyai landasan apa pun untuk percaya bahwa pengalaman-pengalaman ini melekat pada objek lain yang bukan kita. Maka, jika kita mau konsisten dengan empirisisme, akan sampai pada kesimpulan bahwa yang ada hanyalah pikiran dan segala isinya, atau subjek-subjek pengalaman mereka.

Berkeley menyelaraskan argumen itu dengan konsep bahwa seluruh realitas ada dalam pikiran Tuhan, suatu roh tak terbatas yang telah menciptakan kita, roh-roh yang terbatas, dan yang berkomunikasi dengan kita melalui pengalaman-pengalaman kita. Dengan sudut pandang ini, segala yang ada hanya mungkin ada di dalam pikiran kita atau ada di dalam pikiran Tuhan atau, jika tidak, tentu adalah diri kita atau adalah Tuhan.[11]

Menurut pemikirannya, ide-ide yang membuat melihat suatu dunia material. Dan bagaimana dengannya? Dirinya mengakui merupakan suatu substansi ruhani. Ia mengakui adanya Allah, sebab Allah lah yang merupakan asal-usul ide-ide yang dilihat. Jika manusia mengatakan Allah menciptakan dunia, yang dimaksud adalah bukan berarti ada suatu dunia di luar manusia, melainkan bahwa Allah memberi petunjuk ide-ide kepada manusia.[12]

Misalnya, dalam bioskop, gambar-gambar film pada layar putih dilihat para penonton sebagai benda-benda yang riil dan hidup. Jikalau manusia memahami perbandingan wujud ini dengan film seperti tadi, maka boleh manusia teruskan bahwasanya Allah lah yang memutar film itu dalam batin manusia.

Pandangan berkeley ini sekilas seperti rasionalisme karena memutlakkan subjek. Jika diperhatikan lebih lagi pandangan ini termasuk empirisisme, sebab pengetahuan subjek itu diperoleh lewat pengalaman, bukan prinsip-prinsip dalam rasio, meskipun pengalaman itu adalah pengalaman batin. Selanjutya, ia menegaskan tentang adanya sesuatu yang sama dengan pengertiannya dalam diri subjek dan juga ia beranggapan bahwa dunia adalah ide-ide dalam pikiran.[13]

 

  1. David Hume

David Hume adalah filsuf Skotlandia yang menyempurnakan empirisisme.[14] Ia dilahirkan di Edinburgh pada tanggal 07 Mei 1711 dan meninggal pada tanggal 25 Agustus 1776.[15]

Empirisnya bertolak dari Locke dan Berkeley, bahwa tidak dapat diketahui sesuatu apapun, baik mengetahui Allah maupun hakikat orang lain. Dikarenakan semua pengetahuan manusia terbatas pada pengalaman-pengalaman inderawi, jadi pada kesan-kesan yang diterima melalu pancaindera.[16]

Hume membentah Berkeley pada prinsip Berkeley sendiri. Siapa gerangan yang pernah bisa mengamati dirinya sendiri? Jika direnungkan, yang direnungkan sesungguhnya adalah pengalaman-pengalaman kita, yakni pikiran, ingatan, emosi, yang berlangsung sekejap. Kita tidak pernah berhadapan dengan diri yang mengalami itu sendiri. Oleh karena itu, berdasarkan prinsip bahwa kita tidak dapat menyatakan keberadaan sesuatu yang tidak ditemukan dalam pengalaman, kita tak punya alasan sedikitpun untuk menganggap bahwa diri yang mengalami itu ada, dalam artian bahwa tersebut hanya sebuah khayal belaka. Jadi, pertanyaan siapa atau apakah “aku”, satu-satunya jawaban yang dapat dibuktikan oleh pengalaman dan pengamatan adalah “aku adalah sekumpulan kesan”.[17]

Ia menganggap bahwa pengalaman adalah sarana yang paling memadai untuk mencapai kebenaran. Dan juga sumber pengetahuan adalah pengalaman inderawi yang meliputi pengertian. Semua kebenaran bersifat faktual dalam arti berdasarkan adanya kesan inderawi atau data pengalaman yang di alami.[18]

Hume membagi kesan menjadi dua: kesan sensasi dan kesan refleksi. Kesan sensasi adalah kesan-kesan yang masuk ke dalam jiwa yang tidak diketahui sebab penyebabnya. Misalnya, ada sebuah meja kayu. Benda yang dilihat di depan adalah meja. Kesan refleksi adalah hasil dari gagasan. Gagasan jika muncul kembali ke dalam jiwa akan membentuk kesan-kesan baru. Kesan baru hasil pencerminan dari ide sebelumnya inilah yang disebut denga kesan refleksi. Misalnya, kita melihat sebuah meja dari besi Maka dapat ditentukan bahwa itu meja walaupun terbuat dari bahan yang berbeda, karena sebelumnya sudah ada kesan sensasi terhadap meja kayu.

Sedangkan ia menolak tentang kausalitas dan menurutnya bahwa pengalaman hanya memberi urutan gejala, tetapi tidak memperhatikan urutan sebab akibatnya. Ia lebih suka menyebut urutan kejadian. Jika berbicara tentang hukum alam atau sebab merupakan gagasan saja, yang lebih didikte oleh seseorang kebiasaan atau perasaan saja.[19]

Pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan kesimpulan logika atau kemestian sebab akibat. Hukum sebab akibat tidak lain hanya hubungan saling berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti api membuat air mendidih. Dalam api tidak bisa diamati adanya “daya aktif” yang mendidihkan air. Daya aktif yang disebut hukum kausalitas itu tidak bisa diamati. Dengan demikian kausalitas tidak bisa digunakan untuk menetapkan suatu peristiwa yang akan datang berdasarkan peristiwa terdahulu.[20]

Kita tidak pernah mengetahui apapun, kita memang bisa menduga berharap, memperkirakan, tapi itu sama sekali bukan pengetahuan. Misalnya, mungkin suau saat nanti kejadiannya akan berbeda . selama ribuan tahun semua angsa yang pernah diamati oleh orang Eropa selalu berwarna putih, maka langsung menerima fakta tersebut begitu saja angsa berwarna putih. Namun ketika mereka menemukan benua Australia, mereka menemukan angsa berwarna hitam.

Berapa pun banyaknya pengamatan tentang angsa berwarna putih tidak dapat pernah menjamin bahwa semua angsa berwarna putih. Prinsip ini berlaku kepada segala jenis pengamatan.[21]

 

KESIMPULAN

 

  1. Menurut Empirisisme, satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Sedangkan akal berfungsi untuk mengolah data-data yang diperoleh oleh pengalaman itu.
  2. Suatu objek yang ada, pasti ada dan dapat dipersepsi oleh pikiran. Sedangkan objek yang tidak ada, tidak perlu dipikirkan.
  3. Empirisisme Hume, bahwa sumber pengetahuan itu dari suatu pengalaman pada kesan-kesan yang ditangkap oleh pancaindera.

 

DAFTAR PUSTAKA

Susanto, 2011, Filsafat Ilmu (Suatu kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologi dan Aksiologis, (Jakarta: Bumi Aksara)

Bahtiar Amsal, 2012, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada)

Bertrand Russell, 2004, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosi-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, Terjemahan dari History of Western Plhilosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to The Present Day, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)

Endang Daruni Asdi-A. Husnan Aksa, 1981, Filsuf-Filsuf Dunia Dalam Gambar, (Yogyakarta: Karya Kencana)

Hardiman F. Budi, 2007, Filsafat Modern: darii Marchiavelli sampai Nietzsche, cet.2, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

——————–, 2011, Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzsche), (Jakarta: Erlangga)

Magee Bryan, 2012, The Story Of Philosophy, (Yogyakarta: Kanisius)

Maksum Ali, 2008, Pengantar Filsafat: dari Masa Klasik hingga Postmodernisme, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media)

Mandaling Taufik, 2013 Mengenal Filsafat Lebih Dekat, (Yogyakarta: Idea Press)

Praja Juhaya, 2003, Aliran-Aliran Filsafat & Etika, (Jakarta: Kencana)

Sofyan Ayi, 2010, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung: Pustaka Setia)

Sumarna Cecep, 2005, Rekonstruksi Ilmu, (Bandung: Benang Merah Press)

Surajiyo, 2008, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara)

Suseno Franz Magnis, 2010, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Yogyakarta: Kanisius)

 

[1]Ayi Sofyan, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 69-70

[2]Ibid, hlm. 75

[3]Taufik Mandaling, Mengenal Filsafat Lebih Dekat, (Yogyakarta: Idea Press, 2013), hlm. 115-116

[4]Ibid, hlm. 117

[5]A. Susanto, Filsafat Ilmu (Suatu kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologi dan Aksiologis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 37

[6]Ibid, hlm. 38

[7]Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm 66

[8]Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosi-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, Terjemahan dari History of Western Plhilosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to The Present Day, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 847

[9]Endang Daruni Asdi-A. Husnan Aksa, Filsuf-Filsuf Dunia Dalam Gambar, (Yogyakarta: Karya Kencana, 1981), hlm. 35-36

[10]F. Budi Hardiman, Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzsche), (Jakarta: Erlangga, 2011), hlm. 72-73

[11]Bryan Magee, The Story Of Philosophy, (Yogyakarta: Kanisius, 2012), hlm. 111

[12]Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etika, (Jakarta: Kencana, 2003), hlm. 111-112

[13]F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: darii Marchiavelli sampai Nietzsche, cet.2, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), hlm. 85

[14]Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), hlm. 74

[15]F. Budi Hardiman, Filsafat Modern……., hlm. 86

[16]Franz Magnis Suseno, Filsafat……, hlm. 74

[17]Bryan Magee, The Story ………, hlm. 112-113

[18]Cecep Sumarna, Rekonstruksi Ilmu, (Bandung: Benang Merah Press, 2005), hlm. 73

[19]Ali Maksum, Pengantar Filsafat: dari Masa Klasik hingga Postmodernisme, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), hlm. 136-137

[20]Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 100-101

[21]Bryan Magee, The Story ………, hlm. 114

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s